Thursday, March 22, 2012
Menilik Problematika Kemacetan Depok-Pasar Minggu
Sunday, April 10, 2011
Pornografi dan Jejaring Sosial : Vicious Circle Penyebaran Informasi
Pornografi dan dunia maya memang tidak bisa dipisahkan. Fasilitas Internet memberikan fasilitas yang luar biasa luas kepada masyarakat untuk mengakses konten pornografi. Penggunaan internet-pun kini tidak terbatas atas umur dan gender. Semua bebas mengakses, semua bebas menikmati. Tidak ada masalah bagi saya kepada maraknya konten pornografi di dalam dunia maya tersebut, toh mau diberangus sepintar apa, seketat apapun, selalu saja ada celah yang terlewatkan.
Selain penggunaan internet, kita juga disemarakan dengan penggunaan jejaring sosial, facebook dan twitter, dsb. Penggunaan media sosial ini mempercepat arus informasi berpindah tangan. Facebook-pun sudah akrab digunakan oleh semua orang, baik tua maupun muda. Tidak memandang siapa-pun.
Jejaring sosial apabila tidak dimanfaatkan dengan bertanggungjawab akan membawa banyak mudarat. Kecepatan arus informasi pornografi akan semakin cepat menyebar, hal ini ditambah watak masyarakat Indonesia yang suka akan hal-hal sensual, seakan tidak pernah habisnya. Tidak-kah pernah kita berpikir bagaimana apabila anak-anak kecil menonton konten terlarang ini? Kita selalu mengeluh masalah pornografi, namun saat kasus ini terjadi, masalah ini justru dibesar-besarkan, kontennya disebar tanpa batas. Ketika masyarakat, media menghebohkan hal ini terus-menerus, praktis, memori masyarakat akan pornografi terus muncul, dan secara simultan akan meningkatkan stimulasi untuk mengakses konten-nya (Kid,2003). Stimulasi dalam waktu yang lama dapat berakibat kepada stereo-typing negatif, apakah kepada seseorang, instansi ia berada, ataupun kepada negara ia berada (Stimonsen:2006).
Saya bukannya seorang yang suci, namun saya hanya gelisah melihat masyarakat yang inkonsisten ini. Saat kita tahu bahwa pornografi itu salah, kita justru melegitimasinya melalui penyebaran konten di berbagai media. Data yang dikeluarkan Media Analysis, menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari 5 besar negara dengan penontin konten pornografi terbesar di dunia. Kid(2003) menyebutkan akses media pornografi secara berlebihan akan menurunkan produktivitas penduduk negara secara signifikan, menyebarluaskan degradasi moral yang cepat, dan membentuk masyarakat terbelakang. (Kid:2003)
Sekarang semua terserah kita. Hak kita untuk menyaksikan konten tersebut, namun adalah kewajiban kita untuk memelihara diri dari godaan konten terlarang. Salah satunya dengan pemanfaatan media informasi yang tersedia dengan bertanggungjawab. Semua kita yang mulai, hanya kita yang bisa menyudahinya.:).
Think the impact, think the solution! Jangan hanya mampu mengkompori saja!
Sunday, March 27, 2011
Re-Humanisasi Manusia, dan Absennya Energi
* ini hanyalah sebuah karya pribadi dan tanpa dasar landasan ilmiah. Hasil dialog saya dan teman saya dengan mengkaitkan humanisasi manusia, alam dan energi di dalam suatu sistem keselarasan. Sudut pandang mencoba mengkontrakan level kehidupan dengan energi dan tanpa energi dari sudut pandang seorang awam.Kata re-humanisasi sedikit merujuk kepada fenomena earthour tadi malam. Dalam pelaksanaan earth hour tadi malam terjadai perdebatan yang cukup panjang akan filosofis earth hour. Golongan pro memandang bahwa earth hour adalah suatu upaya kongkret manusia untuk belajar dini menghemat penggunaan listrik, terutama pada jam-jam sibuk, terutama pada sabtu, jam 9 malam pula. Sementara itu, golongan kontra menyerang dari beberapa sisi, mulai dari earthour sebagai gerakan simbolis, earthour yang justru memboroskan energi ketika alat elerktronik dimatikan secara mendadak, dan dibutuhkan energi yang besar untuk menghidupkannya, sampai kepada alasan humanis yang membandingkan kebodohan manusia mematikan listrik disaat rakyat desa membutuhkan listrik.
Dilema Ekonomis vs Fisika vs Humanis
Dalam konteks ekonomi, jelas tindakan ini membunuh produktivitas. Ketika listrik tidak lagi ada, maka kita akan terjebak dalam situasi yang tidak produktif pula. Tidak terbayang bagaimana, apabila kebijakan ini dilaksanakan secera menyeluruh, mall-mall, televisi, dan beberapa arena hiburan kota berhenti beroperasi. Dalam konteks Fisika, seperti yang saya jelaskan diatas, layaknya motor, apabila dalam kondisi bergerak, mendadak dihidupkan, maka akan memerlukan energi yang besar untuk menghidupkannya kembali.
Dalam konteks humanis-pun, ini sebenarnya merupakan “suatu” paradoks, kata teman saya. “Kalau orang di-desa masih butuh energi banyak untuk energi, mengapa kita harus mematikannya?”. Ini juga dapat dikatakan pemaksaan halus, yang melanggar kebebasan individual menikmati listrik bukan?
Semua alasan tersebut rasional. Semua alasan tersebut sangat logis, namun dalam konteks economically human. Kita berbicara dalam konteks pemenuhan kebutuhan manusia. Bahwa ketika listrik dipadamkan, gw tidak bisa ini, itu, dll. Semua alasan kontrproduktif dilontarkan. Tidak ada yang salah, hanya saja dalam tingkat pemikiran yang lebih awam, saya ingin mengajak untuk berpikir untuk melihat ini sebagai suatu “pencerdasan” daripada sebuah “kongkretisasi pasti” yang langsung berbuah hasil. Toh dalam publikasi dimuat 60+. Karena apabila dimatikan sekitar 70 menit, akan terasa lebih manfaatnya.
Re-Humanisasi Manusia
Tidak bermaksud menyerang siapapun. Namun, semakin berkembangnya pemikiran modernis ke arah sini, manusia semakin dengan jelas dapat berdebat dengan segala pemikiran konservatif seperti earthour yang ternyata inefisien. Namun, apabila kita melihat dalam pemikiran yang lebih dangkal, ini adalah bentuk nyata sebuah aksi penyadaran untuk membuka manusia lebih kenal dengan alam. Ketika manusia secara sadar, melihat upaya ini sebagai suatu tindakan ramah terhadap bumi berpijak, kegiatan ini jauh lebih terasa mudah. Ketika manusia semakin tenggelam dalam kegemilangan,dan kesibukan dunia, malam yang sunyi kembali membuka sisi diam manusia dan kembali kepada natural-nya.
Setidaknya itu yang saya alami ketika bersama-sama teman menyalakan unggun, dan menikmati malam tanpa cahaya, dan membaur dengan alam. Re-Humanisasi manusia, ya, itulah yang saya rasakan, saat gelap mencekam, namun saat itulah saya merasa lebih dalam bisa mencintai alam.
Ini bukanlah propaganda. Saya mungkin secara sadar juga akan memboroskan listrik. Namun, perayaan kemaren memperlihatkan sisi lain dari manusia tentang keselarasan. Malam ini saya merasakan bagaimana ketiadaan listrik, dan mengangkat derajat bahwa manusia sangat bergantung kepada listrik. Secara sadar, apabila diresapi, beginilah hidup 5,000 tahun yang lalu.
Mengapa pada akhirnya re-humanisasi? Karena pada akhirnya, manusia akan menghadapi kenyataan bahwa energi itu akan habis, apakah minyak, gas alam, batu bara, dsb. Re-humanisasi sebagai bentuk kepedulian manusia untuk secara sadar bisa menghargai energi. Manusia terlahir bersama alam, dan seharusnya ketika bisa lebih bijak bersamanya.
Tulisan ini bukanlah serangan atas golongan yang kontra akan kebijakan earthour. Ini adalah tulisan yang menggambarkan tautan batin akan humanisasi manusia dan energi. Bagi saya, malam tadi adalah momen yang tepat belajar dalam memaknai pentingnay energi dalam kehidupan. Saya menghargai orang yang secara sadar, dan tanpa sombongnya dengan ilmunya menentang kegiatan ini, menghemat energi, walaupun hanya beberapa watt saja. Lebih baik sedikit secara sadar, daripada besar karena paksaaan..:)
Sedikit puisi saya dan teman saya tadi malam..:
Dan langit kembali menangis sedu-sedak melihat empunya tanah pijakan bumi kembali bangkit dari kekhilafan panjang mereka untuk menyadari bahwa mereka belum terlambat untuk merubah segalanya.
Thursday, October 28, 2010
Economic Rationality, and Social Trap (1)
"Rasionalitas adalah hasil buah pemikiran yang sinkron antara intelegensia otak, dan pembenaran hati"
Prof Irzan Tanjung
Well, ini merupakan hasil rangkuman dari kuliah umum hari ini oleh Prof.Irzan Tandjung, Berly Martawardaya dan Donny Gahral. Hari ini saya mendapatkan sebuah pandangan akademik baru, sebuah pandangan akademis yang luas, dinamis, dan hidup. Suatu hal yang menyenangkan melihat iklim diskusi terus digiatkan, mengingat pembelajaran saat ini di FEUI, dilihat dari karakter mahasiswa-nya sangatlah eco-sentris. Padahal, dilihat secara historis, ekonomi adalah pecahan dari suatu ilmu politik, ataupun filsafat, namun kemudian, perkembangan ekonomi semakin menyempt dengan lahirnya paham neo-klasik, sebelum akhirnya era behavioral economics muncul.Economics of Rationality, menggugat rasionalitas konvensional.
Bahasan ini cukup berat*terlihat dari antusiasme mahasiswa saat mendengarkan topik ini. Memang, tiap orang berhak menentukan apa yang ia suka, dan tidak ia suka untuk dipahami. Namun, pembahasan ini menurut saya sangat fundamental, membutuhkan pemikiran yang stratejik. Dan, tidak ada salahnya kita sedikit bermain-main dengan istilah-istilah baru bukan? Hal tersebut tidak ubahnya belajar vocabulary english, dalam konteks yang berbeda.
Economics of Rationality, menurut Prof.Irzan adalah suatu pandangan rasionalitas ekonomi, yang menggabungkan hati, dan otak. Hemat saya, rasionalitas dalam konteks ini adalah ilmu ekonomi, dengan ilmu sosial. Tidak bisa dipungkiri bahwa, dasar dari ilmu ekonomi, yang dipahami secara baik dari awal, adalah untuk memuaskan kebutuhan manusia yang tidak terbatas, dengan sumber daya terbatas. Adam Smith (1776), kemudian, membuat klasifikasi manusia sebagai insan yang egois, homo economicus.
Dalam pembahasan rasionalitas inilah, suatu cabang ilmu, dibenturkan dengan dasar dari disiplin ilmu yang lain. Misalnya, dengan ilmu sosial. Kita ambil contoh untuk mempermudah, tenaga kerja kontrak. Berbicara dari sisi ekonomi, atas nama efisiensi, sebagai derivasi dari pandangan ekonomi, tenaga kerja kontrak seharusnya diperbolehkan. Namun, ketika kita berbicara dari sudut pandang sosial, sosiologi misalnya, seharusnya tenaga kerja kontrak dihapuskan, karena memberikan ketidakpastian (insecurity) pada pekerja. Pandangan semacam ini sering kita temukan sebagai suatu hal yang kontradiktif.
Ataupun ketika era awal perusahaan, sebagai entitas yang profit-oriented, bertransisi untuk menjadi entitas yang people-oriented. Bila kita berkaca pada bahasan Milton Frideman (1965), akan keniscayaan-nya pada CSR sebagai suatu yang tidak seharusnya dilakukan perusahaan, kita kemudian akan menemukan hal tersebut lenyap ketika saat ini CSR menjadi suatu hal yang penting. Saat pandangan sosial mulai bertemu dengan paham ekonomi, terjadilah asimilasi. Ketika awalnya pandangan akan CSR dianggap tidak pada tempatnya, rasionalitas manusia-lah yang membuatnya bisa ada.
Nah, bagaimana dengan social trap? Social trap adalah suatu efek negatif kepada aspek sosial, sebagai akibat utilisasi kegiatan ekonomi yang berlandaskan maksimisasi profit. Contohnya adalah pandangan akan tenaga kerja kontrak tadi, yang secara ekonomi dianggap efisien, namun dalam kajian sosiologis ddianggap tidak tepat dengan kondisi ketenagakerjaan, Ataupun terhadap isu iklan, yang secara ekonomi sah, namun secara psikologi konsumen, berarti mendorong pada sikap konsumtif, afeksionis, dan sebagainya.
Namun, tidak berarti rasionalitas adalah proses yang saling memusnahkan, melainkan memperbaiki suatu pola sistem yang ada untuk dapat bercampur satu sama lain. Suatu disiplim ilmu, sebenarnya bertujuan sama, memperbaiki kehidupan umat manusia (Aristoteles). Rasionalitas haruslah dipandang sebagai proses konstruktif dalam mencipatakan suatu pemahaman yang komprehensif, dan tepat secara filosofis, ontologis, dan epistimologis.
