Pages

Saturday, December 25, 2010

A Critical Comment to UI's Election

I have been witnessed the high-tended general election at my campus for about two weeks. Frankly, i have no idea what are people are fighting for. In daily life, we shout democracy, maternal, inside we are as fragile as the legislative board one. Here is my view regarding to UI's annual election this year :

1. Professionalism is at stake. One candidate has formally, by law, mistaken by showing different GPA point's. I think it is common to our custom to hold on after that issue. If this is Japan, surely, that candidate will put off his position. Indeed, i have no obligation to push him off, i just reminding the way professionalism is being sacrificed.

2. Institutional Independence is also at stake. Two public institution which is Constitutional Board, and Legislative Board has tempted to move on it's own way. On the legislative side, somewhat ridiculous, announced the firing letter of five MM Board, the day the MM official decision was being announced. The tendencies also alleged to MM for supporting one candidate.

However, I was thinking that the allegation is also ridiculous. They said the judges are supporting one candidate. Hello, that was very subjective indeed! And what is more outrageous, the Legislative Board processed that petition without further reconcile that issue. Now, who blame who?

I could said that MM was not subjectively preferred to one candidate, since not all of the allegations were being accept by the judges.

3. MM announced that re-election should be done, in 30 days. In addition, one candidate must apologize to public for his mistaken. That decision was being publicly announced using two balihos, in front of FT and FH. Surprisingly, the baliho was missing to nowhere, the night after. Hello! I sceptically saw this politic turn mad, and even worse, the candidate are showing off for position.

4. Re-election is rhetorics? Of course! The committee officially surrender. Legislative Board surely won't accept that request. Who would set up the re-election? How messy! There is not any inter-correlation between institutions. Another classes preferences?

I am very dissappointed the way this year election done. Too many fault, too many indisclipinaries action, too many allegations, too many conflict! I just hope, that the next BEM UI would better off, more inclusive, and more progressive.

To whom who act immaturely, please, be mature. Obey the law, show your dignity!


Pembatasan Subsidi BBM, Disinsetif Perekonomian-kah?

Tulisan ini dimuat di Harian Seputar Indonesia, Senin, 21 Desember 2010, rubrik suara Mahasiswa

Pembatasan Subsidi BBM, Disinsentif Perekonomian-kah?

Oleh : Muhammad Fadel Noorsal

BBM merupakan salah satu komoditas vital dalam suatu perekonomian. BBM merupakan komoditas yang lazim dipergunakan diseluruh dunia, baik sebagai bahan bakar untuk kendaraan, pembangkit listrik, dan keperluan lainnya. Bisa dibayangkan pada tahun 1973 sampai periode 1980’an, dunia mengalami oil shock akibat dikendalikannya pasokan minyak dunia oleh OPEC. Selama periode tersebut, dunia mengalami krisis pasokan minyak, yang berimbas kepada melambatnya performa perekonomian negara-negara di dunia.

Sebagai salah satu komoditas vital, negara berperan penting untuk menjaga pasokan energi utama ini. Instabilitas harga, maupun pasokan minyak dapat menghambat aktivitas perekonomian, seperti aktivitas industri, dan keperluan transporatsi sehari-hari. Untuk dapat terus menggerakan aktivitas perekonomian, seharusnya pemerintah menyediakan pasokan BBM yang cukup, dengan harga yang terjangkau.

Namun, kenyataan sebaliknya terjadi, pemerintah justru membatasi pasokan BBM bersubsidi. Kebijakan tersebut bersifat kontraktif, dan dapat membahayakan pertumbuhan perekonomian Indonesia yang sedang tumbuh. Lantas, tepatkah kebijakan ini dilakukan dengan kondisi perekonomian Indonesia yang sedang bertumbuh? Untuk dapat melihat efektifitas kebijakan ini, kita perlu mencermati alasan atas pemberlakuan kebijakan ini. Alasan pokok pengurangan BBM bersubsidi adalah untuk mengurangi beban anggaran pos subsidi BBM. Pada tahun 2010, subsidi BBM memakan 15% dari APBN. alokasi subsidi BBM bahkan lebih besar daripada anggaran belanja modal, seperti untuk infrastruktur dan pelayanan publik.

Mirisnya, subsidi yang diperuntukkan untuk membantu masyarakat tidak mampu, justru banyak dinikmati oleh golongan mampu. Menurut laporan BPH Migas per 2010, 53% konsumsi BBM bersubsidi dinikmati oleh mobil pribadi, dan 40% oleh sepeda motor. Diantara jumlah tersebut, tidak sedikit pula kendaraan pribadi yang tergolong mewah, dan masih mempergunakan BBM bersubsidi.

Ditinjau dari perspektik ekonomi lingkungan, kebijakan pembatasan kebijakan BBM berimplikasi kepada penciptaan kota yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, penghematan BBM bersubsidi juga diharapkan dapat memperpanjang “usia” cadangan minyak Indonesia, yang menurut para ahli akan habis dalam 24 tahun mendatang (Kompas,9/8/2010).

Dengan mencermati alasan tersebut, sangatlah logis pemerintah membatasi penggunaan BBM bersubsidi. Apakah kemudian kebijakan ini menjadi disinsetif bagi perekonomian? Tidak juga. Melalui kebijakan ini, pemerintah dapat mentransfer alokasi subsidi BBM kepada pos yang lebih membutuhkan, misalkan kepada pembangunan infrastuktur dan fasilitas layanan publik.

Pembatasan subsidi BBM, juga akan semakin mendorong efisiensi penggunaan transportasi, dan operasional industri. Jepang dan Jerman, yang secara relatif harga BBMnya lebih mahal daripada Indonesia, mampu menggenjot perekonomiannya lebih cepat daripada Indonesia. Hal ini terlihat dari elastisitas konsumsi BBM atas pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia yang bernilai 2,02. Sementara itu, Jepang dan Jerman, justru mendapatkan nilai elastitas yang negatif, menunjukan rasio pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan konsumsi BBMnya (Kompas,10/12/2010).

Di bidang transportasi, pemerintah juga memiliki momentum untuk mempromosikan penggunaan transportasi umum. Pengadaan transportasi masal yang murah dan nyaman, memberikan insentif bagi masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi. Dengan mengefektifkan penguaan moda transportasi masal, permasalahan kemacetan dapat dikurangi, sekaligus menurunkan beban biaya transportasi logistik akibat berkurangnya kemacetan.



Thursday, October 28, 2010

Economic Rationality, and Social Trap (1)

"Rasionalitas adalah hasil buah pemikiran yang sinkron antara intelegensia otak, dan pembenaran hati"
Prof Irzan Tanjung
Well, ini merupakan hasil rangkuman dari kuliah umum hari ini oleh Prof.Irzan Tandjung, Berly Martawardaya dan Donny Gahral. Hari ini saya mendapatkan sebuah pandangan akademik baru, sebuah pandangan akademis yang luas, dinamis, dan hidup. Suatu hal yang menyenangkan melihat iklim diskusi terus digiatkan, mengingat pembelajaran saat ini di FEUI, dilihat dari karakter mahasiswa-nya sangatlah eco-sentris. Padahal, dilihat secara historis, ekonomi adalah pecahan dari suatu ilmu politik, ataupun filsafat, namun kemudian, perkembangan ekonomi semakin menyempt dengan lahirnya paham neo-klasik, sebelum akhirnya era behavioral economics muncul.

Economics of Rationality, menggugat rasionalitas konvensional.

Bahasan ini cukup berat*terlihat dari antusiasme mahasiswa saat mendengarkan topik ini. Memang, tiap orang berhak menentukan apa yang ia suka, dan tidak ia suka untuk dipahami. Namun, pembahasan ini menurut saya sangat fundamental, membutuhkan pemikiran yang stratejik. Dan, tidak ada salahnya kita sedikit bermain-main dengan istilah-istilah baru bukan? Hal tersebut tidak ubahnya belajar vocabulary english, dalam konteks yang berbeda.

Economics of Rationality, menurut Prof.Irzan adalah suatu pandangan rasionalitas ekonomi, yang menggabungkan hati, dan otak. Hemat saya, rasionalitas dalam konteks ini adalah ilmu ekonomi, dengan ilmu sosial. Tidak bisa dipungkiri bahwa, dasar dari ilmu ekonomi, yang dipahami secara baik dari awal, adalah untuk memuaskan kebutuhan manusia yang tidak terbatas, dengan sumber daya terbatas. Adam Smith (1776), kemudian, membuat klasifikasi manusia sebagai insan yang egois, homo economicus.

Dalam pembahasan rasionalitas inilah, suatu cabang ilmu, dibenturkan dengan dasar dari disiplin ilmu yang lain. Misalnya, dengan ilmu sosial. Kita ambil contoh untuk mempermudah, tenaga kerja kontrak. Berbicara dari sisi ekonomi, atas nama efisiensi, sebagai derivasi dari pandangan ekonomi, tenaga kerja kontrak seharusnya diperbolehkan. Namun, ketika kita berbicara dari sudut pandang sosial, sosiologi misalnya, seharusnya tenaga kerja kontrak dihapuskan, karena memberikan ketidakpastian (insecurity) pada pekerja. Pandangan semacam ini sering kita temukan sebagai suatu hal yang kontradiktif.

Ataupun ketika era awal perusahaan, sebagai entitas yang profit-oriented, bertransisi untuk menjadi entitas yang people-oriented. Bila kita berkaca pada bahasan Milton Frideman (1965), akan keniscayaan-nya pada CSR sebagai suatu yang tidak seharusnya dilakukan perusahaan, kita kemudian akan menemukan hal tersebut lenyap ketika saat ini CSR menjadi suatu hal yang penting. Saat pandangan sosial mulai bertemu dengan paham ekonomi, terjadilah asimilasi. Ketika awalnya pandangan akan CSR dianggap tidak pada tempatnya, rasionalitas manusia-lah yang membuatnya bisa ada.

Nah, bagaimana dengan social trap? Social trap adalah suatu efek negatif kepada aspek sosial, sebagai akibat utilisasi kegiatan ekonomi yang berlandaskan maksimisasi profit. Contohnya adalah pandangan akan tenaga kerja kontrak tadi, yang secara ekonomi dianggap efisien, namun dalam kajian sosiologis ddianggap tidak tepat dengan kondisi ketenagakerjaan, Ataupun terhadap isu iklan, yang secara ekonomi sah, namun secara psikologi konsumen, berarti mendorong pada sikap konsumtif, afeksionis, dan sebagainya.

Namun, tidak berarti rasionalitas adalah proses yang saling memusnahkan, melainkan memperbaiki suatu pola sistem yang ada untuk dapat bercampur satu sama lain. Suatu disiplim ilmu, sebenarnya bertujuan sama, memperbaiki kehidupan umat manusia (Aristoteles). Rasionalitas haruslah dipandang sebagai proses konstruktif dalam mencipatakan suatu pemahaman yang komprehensif, dan tepat secara filosofis, ontologis, dan epistimologis.


Wednesday, October 13, 2010

Here I Am

Tree of Hope. I wish i could answer world's grievances for truth behind lies.

"Aku bukanlah orang yang pandai bermain kata, ataupun dapat membuat mimpi-mimpi indah akan dunia ini. Namun, aku tahu apa yang harus kulakukan, dan apa yang penting dilakukan. Aku mengetahui bahwa dengan kepintaran diatas rata-rata yang diberikan Tuhan pada-ku, aku bisa berbuat sesuatu. Itulah yang membuatku bisa tetap tegar memandang masa depanku, dan dunia-ku, meski tanpa angan-angan utopis. Aku bekerja dengan kata-kata, rumus-rumus, dan analisa-analisa, yang aku percaya, dapat memberi nilai tambah bagi-ku, dan dunia yang aku tempati."



Monday, October 11, 2010

Indonesian Football Team or PSSI Humiliation?

Do our national football team have chance? Wait and see!


Friday, 8 October 2010, one of the biggest match in Indonesia was being held. It was a match between Indonesia vs Uruguay. Indonesia had a real challenge from Uruguay, which now seat on the 7th position in FIFA football rank, and the semi-finalist of FIFA World Cup 2010 in South Africa. Around 50,000 spectators came to support our National team at that time.

Indonesia expect for a glimmer of hope. Several days before the match was being held, newspaper intensively report our national team preparation, from our new prospectus coach, Alfred Riedl, to the invitation of foreign player who reported play in Netherlands League. It was a glimpse of hope, said one of commentator just a minute before the match started. Obviously, people all over Indonesia expect for a better team.

Our hope slightly answered when Boaz scored the first goal on the match for Indonesia, with a skillful individual ability. However, it only last for minute until Cavani scored with a powerful scoring header from Uruguay, and another goal from Suarez. Until the first half, our team was good enough to compete with Uruguay.

It come for the second half, when Indonesian team and spectators witnessed Uruguay world-class playing, and scored another 5 goals, some of them resulted from the mistaken of our defense line. We're being outplayed, said one of the commentator at the end time. Surely, every one will said the same, our national team was outplayed in technique, stamina, and teamwork. Not only against Uruguay, some previous matches against Australia, Vietnam, or Singapore also proved that we are lack of those skills.

At the end, we might have the same question, when our national football crisis will over?



Suarez's Goals


Who's to be blamed?

Just after the match finished, many soccer fans show their grievances, against the outplayed national team in Facebook and Twitter. Some of them blamed the defense player, some of them blamed Alfred Riedl, however, you must be agree with me, that most of them condemn PSSI. They were complained for lacks of managerial program from PSSI, from youth player development, until League's schedule program. "Even PSSI is not able to resolve their internal conflict, such as the election for a new PSSI chairman" one commentators wrote.

For sure, PSSI ought to be the most responsible one. Still clear in some of Indonesian fans when Indonesian national team in 1960's, when we were become one of greatest soccer team in Asia. Our youth development program had succeed to create regional-class player, such as Ronny Pattinasarani, Kurniawan, and BimaSakti. The last two even had chances to played in Italian league. Nowadays, we are lack of talented young player, while Thailand had Khiatisuk Senamuang which ever played in English league, or even Singapore that neutralized several International player.

Another PSSI homework is to manage domestic league competition. PSSI have to regulated about the use of foreign player in domestic teams, brutality among player and spectators is another issue that needed to be handled as it caused severe impacts toward the harmony of football player, and the prestige of domestic football in international point of view.

We are on a hardship. And will be last for ever, if PSSI let problems stay on the boat. PSSI are advancing for the next election of PSSI chairman. This is the time for PSSI to change. Changes never show its result instantly, but when it one succeed it will give an immense effect toward our football prospectus in the future.

Friday, October 8, 2010

Next Target!

Yups, tahun ini pengennya bisa meraih 5 prestasi di karya tulis. Alhamdulillah udah ada 4..
ESC - 1st Essay
ESC - 3rd Research
FISION - 2 nd Essay
IIRA - The youngest presenter

What's next?
Okayh, ayo semangat buat mencapai target ini!
PKM-P PIMNAS
Sciencational LK2 FH UI
IEO FEUI

dan bisa nembusin tulisan ke koran. Bismillah!!!!

Lesson to be Learned! The Creative Destruction Process in Essay


Dear blog! Saya mungkin pada awalnya begitu kecewa dengan kegagalan saya di essay untuk tahun kedua. Mungkin bila tahun pertama saya memang belum siap, tahun ini mungkin saya merasa terlalu PD menghadapi tantangan. Worth saying, memang, kompetisi EPK adalah kompetisi yang sangat dinamis! Menurut saya, penilaian bersifat subjektif atas disiplin dan persepsi pengetahuan juri. Dan memang, namanya juga EPK ya, jadi kritisasi dan inovasi adalah pelajarannya.

Di blog sebelumnya, saya pernah menuliskan beberapa tips menulis essay. Hari ini, alhamdulillah saya mendapatkan satu lagi tipsnya, yang saya lupakan :

"Proses penulisan essay pemikiran kritis bermulai dari sebuah, atau segelumit peristiwa yang kita kritisi, analisis, dan berujung pada penciptaan sebuah inovasi kritis atas permasalahan yang ada. Essay yang kritis, haruslah bisa menunjukan bahwa sebuah permasalahan tersebut benar-benar penting, dan berujung pada beberapa inovasi kritis."

Pada essay kali ini, saya kurang mengelaborasi urgensi permasalahannya. Benar kata juri dari FH, saya mungkin harus bisa memberikan contoh kongkret permasalahan, misal, tenaga kerja kontrak dalam bentuk pekerja migran. Mungkin permasalahan saya bisa lebih baik dielaborasikan, begitu pula dengan solusinya. Contohnya, bisa menyajikan data permasalahan, korban jiwa, kerugian,dsb, Solusinya, kalau bisa terintegrasi dan jangan yang umum. HMMM!

Namun, alhamdulillah, saya kembali bisa belajar. Dunia itu luas, semua orang berkembang, pemikiran berkembang, dan creative destruction-pun tercipta. Oleh karenanya, tetap semangat! dan teruslah menulis!