Pages

Friday, September 2, 2011

When Commitment Being Tested

One prominent word ever said :
" A man can love million girls, but the real man can love a girl in million way"

All of is all about commitment, and for a man, a commitment is something not worth, we can choose freely, so girl should do. In most men mind, i do believe that, if a girl betrayed you, millions will come to pass by. So, it's easy being a man, to select, yet to select the right one will be different case.

However, being real man is become a man of value, which can stay strong, concealed ego, and be patient with girl's puzzling attitude. Girls do like puzzle, sometimes it;s hard to go deep down, and we can go away with nothing but confusion. Yet, that;s the point i thing patience. When you're effort been paid, you can feel the patience worth turn you up.

But patience has cost. the longer the time the expensive the cost will be, and man surely like girls, can stand for higher cost he can't weighted. So, that's it.

New Semester : Semester 7

What? I am already has just become the last-year student in my university. So sad, uh? I can;t imagine this 4-years that i presumed to be a long journeys. end in no time. However, there are no use to look back and regret, all I can do is to plan and execute more good things to do before I graduate.

I would like to share my new semester plan in academic :
1. Got GPA at least 3.6-3.7 (I plan to get 3.63 Final GPA at least, so 3.7 will be the right value).
2. Accomplished tasks in BEM UI 2011, get events done, all parameters fulfilled, and events are financially healthy.
3. Submit PKM-P and PKM-K, i got to think about this events for two years and this the right time for my proposal to be granted and win.
4. Win at least 3 more competition during second term of 2011.
5. Finish at least three chapter of my thesis.
6. Prepare to apply for Assistant Lecture (amiin).
7. Prepare to apply YLI, and a Scholarship.
8. Attend one more confrence, in Malaysia probably in December.

Another plan will be :
1. Buy Galaxy Tab or BlackBerry with own money.
2. Learn guitar.
3. Got TOEFL at least 570.
4. Publish two more articles at national published media.

And etc, I just can't wait to accomplished all mission, and get proud of myself at the end, when effort been paid off..:D

Saturday, May 21, 2011

Mengapa UI Tidak Kunjung Membuka Laporan Keuangannya?:A Principal Agency Cost Approach

*Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis. Tulisan ini hanya pendapat akademik dan bukan pembelaan

UI dan lika-liku transparansi keuangan

Di periode 2011 ini, isu transparansi laporan keuangan belum juga tuntas. Meskipun sudah banyak pers mahasiswa yang meliput akan masalah ini, ditambah lagi dengan adanya kunjungan ICW ke Rektorat beberapa pekan silam, UI sepertinya urung membuka laporan keuangannya ke publik. Berbagai gugatan yang diajukan mahasiswa untuk membuka laporan keuangan ke publik pun mental. Meskipun ada landasan hukum melalui PP no.66, sepertinya pihak Rektorat tidak kunjung membahasnya.

Tanpa ada laporan keuangan, kita tentunya tidak dapat mengetahui sumber pendanaan dan pengeluaran yang dilaksanakan oleh rektorat UI. Wajar saja apabila pertanyaan-pertanyaan, seperti, apakah dana tersebut didapatkan dengan cara-cara yang halal? Apakah dana tersebut bebas kepentingan politik praktis? Apakah pengeluaran telah dimanfaatkan secara efektif?, mencuat dalam benak kita.

Transparansi Vs Stabilitas : Principal Agency Cost Theory Approach

Kepemimpinan Soeharto dapat menjelaskan kepemimpinan Rektor UI saat ini.

Mengapa rektorat tidak kunjung membuka? Kita dapat menggunakan berbagai teori untuk menjelaskannya, salah satunya adalah principal agency cost. Pendekatan pertama, mari kita simak teori yang disampaikan W.W Rostow, pengusung teori transformasi struktural. Menurut Rostow, sebuah negara mengalami proses yang dinamakan "lepas-landas", sampai proses "pendaratan". Proses ini menunjukan dinamika ekonomi dan politik yang dialami suatu negara dalam proses pembagunannya. Negara-negara dalam proses pertengahan, umum mengalami ketidakstabilan situasi politik, seperti pengekangan kebebasan, dan ketimpangan yang membesar.

Konteks permasalahan transparansi UI, saat ini tidak ubahnya seperti Indonesia pada masa Orba. Membangun Indonesia pada tahun 1966-1998 bukanlah perkara mudah. Soeharto bersama mimpi besarnya, menggunakan tangan dinginnya untuk mencapai cita-citanya demi Indonesia. Berbagai proyek mercusuar, dan bisnis-bisnis konglomerasi bermunculan. Pada zaman tersebut, transparansi dan kebebasan tidak terlalu digubris oleh Soeharto. Mengapa? Saat kebabasan diberikan, transparansi dibuka, hal ini dapat memunculkan movement yang akan menjatuhkan rezim-nya sebelum dapat menyelesaikan proyeknya. Oleh karena itulah. Soehaerto menunjukan sistem kepemimpinan ototoriter, apa yang ia mau, apa yang ia katakan, apa yang ia lakukan adalah yang terbaik. Kasus ini juga terlihat seperti China saat ini.

Apa yang terjadi pada masa Orba dapat dianalogikan pada kondisi UI saat ini. Rektor menjalankan kepemimpinan otoriter atas mimpinya membangun UI menjadi WCRU. Ia mencanangkan berbagai langkah strategis, yang bukannya tanpa pengorbanan. Uang kuliah naik, dan munculnya sistem penerimaan mandiri adalah salah satu implikasinya. Pembangunan proyek mercusuar membutuhkan dana besar. Pengorbanan harus dilakukan, namun itu adalah bagian dari proses, seperti yang dijelaskan oleh Kutznet, bahwa dalam proses menuju perkembangan, ketimpangan yang membesar adalah fenomena umum seiring berjalannya waktu.

Dalam teori principal-agency dinyatakan bahwa, ketika terlalu banyak pihak yang turut andil dalam proses pengambilan keputusan, atau mempunyai pengaruh dalam arah kebijakan, hal ini akan memunculkan biaya bagi institusi, entah ketidak percayaan, lambannya pengambilan keputusan, dan perubahan perencanaan. Sepertinya hal inilah yang dipikirkan oleh Rektor UI. Ketika laporan keuangan dibuka ke publik, ada beberapa poin sorotan penting :

(1) Pemakaian uang yang disalahgunakan

(2) Pemakaian uang yang tidak tepat sasaran

(3) Penggelembungan uang akan banyak proyek-proyek mercusuar.

Untuk poin (1) kita kesampingkan. Menurut penulis, apabila laporan keuangan di-publish, poin (2) dan poin (3), akan menjadi titik sentral pengamatan. Sepertinya rektor ingin menghindari kritik ketika proyeknya sedang berlangsung. Stabilitas adalah hal yang ingin ia amankan. Dari perspektif investor pun, ketika adanya situasi yang safe and sound akan berarti banyak. Bukan berarti bahwa kita langsung men-judge bahwa rektorat UI melakukan fraud, dsb. Namun, juga peluang apabila ada pos-pos pengeluaran yang dana-nya bengkak, akan dikeluhkan mahasiswa, stakeholder, dan ini bisa memperlambat proses pembangunan.

Me-relase laporan keuangan publik, menurut Subramanyan dan Wild (2007) dapat:
(1) Mempengaruhi mekanisme pengambilan kebijakan atas adanya kontribusi yang lebih besar kepada stakeholder

(2) Mempegaruhi persepsi stakeholder akan kinerja institusi tersebut, teruatam para calon konsumen dan investor.

(3) Memunculkan pertanggungjawaban publik yang sah.

Game Theory Approach

Coba pikirkan, dengan menggunakan pendekatan game-theory, apa yang akan terjadi?
- UI membuka laporan keuangan - Stakeholder mengungkit-ngkungkit masalah biaya (padahal belum tentu masalah kecurangan, siapa tahu hanya masalah tidak tepat sasaran)-> Reputasi UI jatuh, mosi tidak percaya kepada Rektor, muncul ketidakpercayaan pada investor maupun calon target konsumen .

- UI tidak membuka laporan keuangan - stakeholder mengungkit -> Tidak ada bukti yang valid, proyek tetap bisa jalan

UI memilih prioritas (2), karena memang biaya yang ditempub lebih kecil, dan meminimalkan potensi konflik terjadi.


Kesimpulan :
Sekiranya mengapa Rektor tidak me-release laporan keuangan sampai saat ini adalah, untuk dapat memuluskan pelaksanaan proyek yang sedang dijalankan, dengan meminimalkan peran stakeholder lain yang memungkinkan untuk menganggu jalannya proyek ini. Sebagai mana yang dungkapkan Rsotow, negara berkembang, figur seorang pemimpin yang otoriter, tegas, namun tetap visioner adalah pertanda bahwa negara tersebut sedang dalam masa transisisi, yang ditandai dengan semakin banyaknya peraturan, dan pengekangan kebebasan. Rektor pun seperti itu, ia menginginkan kestabilan, bersikap acuh, dan otoriter, Karena dengan watak seperti itulah, pembangunan yang besar ini dapat terlaksana.

Sumber :

Magginson, 1990. Corporate Finance Theory

Subramanyan, J dan Wield, K. 2007. Financial Statement Analysis : McGraw Hill

WW.Rostow. "Theory of Structural Transformation", diambil dari slide mata kuliah Pengantar Ekonomi Indonesia, Oktober 2010.



Sunday, April 10, 2011

Pornografi dan Jejaring Sosial : Vicious Circle Penyebaran Informasi

Pornografi dan dunia maya memang tidak bisa dipisahkan. Fasilitas Internet memberikan fasilitas yang luar biasa luas kepada masyarakat untuk mengakses konten pornografi. Penggunaan internet-pun kini tidak terbatas atas umur dan gender. Semua bebas mengakses, semua bebas menikmati. Tidak ada masalah bagi saya kepada maraknya konten pornografi di dalam dunia maya tersebut, toh mau diberangus sepintar apa, seketat apapun, selalu saja ada celah yang terlewatkan.

Selain penggunaan internet, kita juga disemarakan dengan penggunaan jejaring sosial, facebook dan twitter, dsb. Penggunaan media sosial ini mempercepat arus informasi berpindah tangan. Facebook-pun sudah akrab digunakan oleh semua orang, baik tua maupun muda. Tidak memandang siapa-pun.

Jejaring sosial apabila tidak dimanfaatkan dengan bertanggungjawab akan membawa banyak mudarat. Kecepatan arus informasi pornografi akan semakin cepat menyebar, hal ini ditambah watak masyarakat Indonesia yang suka akan hal-hal sensual, seakan tidak pernah habisnya. Tidak-kah pernah kita berpikir bagaimana apabila anak-anak kecil menonton konten terlarang ini? Kita selalu mengeluh masalah pornografi, namun saat kasus ini terjadi, masalah ini justru dibesar-besarkan, kontennya disebar tanpa batas. Ketika masyarakat, media menghebohkan hal ini terus-menerus, praktis, memori masyarakat akan pornografi terus muncul, dan secara simultan akan meningkatkan stimulasi untuk mengakses konten-nya (Kid,2003). Stimulasi dalam waktu yang lama dapat berakibat kepada stereo-typing negatif, apakah kepada seseorang, instansi ia berada, ataupun kepada negara ia berada (Stimonsen:2006).

Saya bukannya seorang yang suci, namun saya hanya gelisah melihat masyarakat yang inkonsisten ini. Saat kita tahu bahwa pornografi itu salah, kita justru melegitimasinya melalui penyebaran konten di berbagai media. Data yang dikeluarkan Media Analysis, menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari 5 besar negara dengan penontin konten pornografi terbesar di dunia. Kid(2003) menyebutkan akses media pornografi secara berlebihan akan menurunkan produktivitas penduduk negara secara signifikan, menyebarluaskan degradasi moral yang cepat, dan membentuk masyarakat terbelakang. (Kid:2003)

Sekarang semua terserah kita. Hak kita untuk menyaksikan konten tersebut, namun adalah kewajiban kita untuk memelihara diri dari godaan konten terlarang. Salah satunya dengan pemanfaatan media informasi yang tersedia dengan bertanggungjawab. Semua kita yang mulai, hanya kita yang bisa menyudahinya.:).

Think the impact, think the solution! Jangan hanya mampu mengkompori saja!

Sunday, March 27, 2011

Re-Humanisasi Manusia, dan Absennya Energi

* ini hanyalah sebuah karya pribadi dan tanpa dasar landasan ilmiah. Hasil dialog saya dan teman saya dengan mengkaitkan humanisasi manusia, alam dan energi di dalam suatu sistem keselarasan. Sudut pandang mencoba mengkontrakan level kehidupan dengan energi dan tanpa energi dari sudut pandang seorang awam.

Kata re-humanisasi sedikit merujuk kepada fenomena earthour tadi malam. Dalam pelaksanaan earth hour tadi malam terjadai perdebatan yang cukup panjang akan filosofis earth hour. Golongan pro memandang bahwa earth hour adalah suatu upaya kongkret manusia untuk belajar dini menghemat penggunaan listrik, terutama pada jam-jam sibuk, terutama pada sabtu, jam 9 malam pula. Sementara itu, golongan kontra menyerang dari beberapa sisi, mulai dari earthour sebagai gerakan simbolis, earthour yang justru memboroskan energi ketika alat elerktronik dimatikan secara mendadak, dan dibutuhkan energi yang besar untuk menghidupkannya, sampai kepada alasan humanis yang membandingkan kebodohan manusia mematikan listrik disaat rakyat desa membutuhkan listrik.

Dilema Ekonomis vs Fisika vs Humanis

Dalam konteks ekonomi, jelas tindakan ini membunuh produktivitas. Ketika listrik tidak lagi ada, maka kita akan terjebak dalam situasi yang tidak produktif pula. Tidak terbayang bagaimana, apabila kebijakan ini dilaksanakan secera menyeluruh, mall-mall, televisi, dan beberapa arena hiburan kota berhenti beroperasi. Dalam konteks Fisika, seperti yang saya jelaskan diatas, layaknya motor, apabila dalam kondisi bergerak, mendadak dihidupkan, maka akan memerlukan energi yang besar untuk menghidupkannya kembali.

Dalam konteks humanis-pun, ini sebenarnya merupakan “suatu” paradoks, kata teman saya. “Kalau orang di-desa masih butuh energi banyak untuk energi, mengapa kita harus mematikannya?”. Ini juga dapat dikatakan pemaksaan halus, yang melanggar kebebasan individual menikmati listrik bukan?

Semua alasan tersebut rasional. Semua alasan tersebut sangat logis, namun dalam konteks economically human. Kita berbicara dalam konteks pemenuhan kebutuhan manusia. Bahwa ketika listrik dipadamkan, gw tidak bisa ini, itu, dll. Semua alasan kontrproduktif dilontarkan. Tidak ada yang salah, hanya saja dalam tingkat pemikiran yang lebih awam, saya ingin mengajak untuk berpikir untuk melihat ini sebagai suatu “pencerdasan” daripada sebuah “kongkretisasi pasti” yang langsung berbuah hasil. Toh dalam publikasi dimuat 60+. Karena apabila dimatikan sekitar 70 menit, akan terasa lebih manfaatnya.

Re-Humanisasi Manusia

Tidak bermaksud menyerang siapapun. Namun, semakin berkembangnya pemikiran modernis ke arah sini, manusia semakin dengan jelas dapat berdebat dengan segala pemikiran konservatif seperti earthour yang ternyata inefisien. Namun, apabila kita melihat dalam pemikiran yang lebih dangkal, ini adalah bentuk nyata sebuah aksi penyadaran untuk membuka manusia lebih kenal dengan alam. Ketika manusia secara sadar, melihat upaya ini sebagai suatu tindakan ramah terhadap bumi berpijak, kegiatan ini jauh lebih terasa mudah. Ketika manusia semakin tenggelam dalam kegemilangan,dan kesibukan dunia, malam yang sunyi kembali membuka sisi diam manusia dan kembali kepada natural-nya.

Setidaknya itu yang saya alami ketika bersama-sama teman menyalakan unggun, dan menikmati malam tanpa cahaya, dan membaur dengan alam. Re-Humanisasi manusia, ya, itulah yang saya rasakan, saat gelap mencekam, namun saat itulah saya merasa lebih dalam bisa mencintai alam.

Ini bukanlah propaganda. Saya mungkin secara sadar juga akan memboroskan listrik. Namun, perayaan kemaren memperlihatkan sisi lain dari manusia tentang keselarasan. Malam ini saya merasakan bagaimana ketiadaan listrik, dan mengangkat derajat bahwa manusia sangat bergantung kepada listrik. Secara sadar, apabila diresapi, beginilah hidup 5,000 tahun yang lalu.

Mengapa pada akhirnya re-humanisasi? Karena pada akhirnya, manusia akan menghadapi kenyataan bahwa energi itu akan habis, apakah minyak, gas alam, batu bara, dsb. Re-humanisasi sebagai bentuk kepedulian manusia untuk secara sadar bisa menghargai energi. Manusia terlahir bersama alam, dan seharusnya ketika bisa lebih bijak bersamanya.

Tulisan ini bukanlah serangan atas golongan yang kontra akan kebijakan earthour. Ini adalah tulisan yang menggambarkan tautan batin akan humanisasi manusia dan energi. Bagi saya, malam tadi adalah momen yang tepat belajar dalam memaknai pentingnay energi dalam kehidupan. Saya menghargai orang yang secara sadar, dan tanpa sombongnya dengan ilmunya menentang kegiatan ini, menghemat energi, walaupun hanya beberapa watt saja. Lebih baik sedikit secara sadar, daripada besar karena paksaaan..:)

Sedikit puisi saya dan teman saya tadi malam..:

Dan langit kembali menangis sedu-sedak melihat empunya tanah pijakan bumi kembali bangkit dari kekhilafan panjang mereka untuk menyadari bahwa mereka belum terlambat untuk merubah segalanya.



Saturday, January 15, 2011

Opportunity Cost Sehari-Hari = Biaya Malas

Dalam kehidupan sebagai anak kost saya menemukan konsepsi dari biaya peluang, yang ternyata dapat dianalogikan sebagai biaya kemalasan. Mau buktinya?

1. Makan Mie Goreng ke Warung

Seringkali karena malas ke warung beli sendiri, atau males masak jadi membeli. Beginilah persamaannya :

Mie Goreng 2 Bungkus (3000) +Telor Ayam (1000) + Opportunity Cost (Biaya Malas) = Indomie Goreng Double Telor di Warung (8,000)

Jadi biaya malas saya adalah 4,000! how lame!

2. Beli Susu Ultra Milk

Ini juga, karena males buat, dan ada yang praktis, beli aja di luar.

Ovaltine 2 sendok (1,000) + Air Panas (Free) + Biaya Malas = Ovaltine Siap Jadi (4000)

Jadi biaya malas saya adalah 3,000!

3. Naik Ojek

Akibat anak muda banya kesibukan, jadinya males or capek jalan jauh, Persamaannya :

Jalan Kaki (Free) + Biaya Capek = Ojek (5,000)

Biaya Capek saya adalah 5,000

4. Beli Koran

Meski era sudah maju, ada Online cuma karena malas baca online, jadi beli koran yang cetak. Padahal kalau kita mau baca e-paper kompas, isinya sama saja.

Akses internet koran Online (Free kalau ad modem sendiri) + Biaya Males Baca Online = Koran Cetak (3,000)

Biaya malas saya adalah 3,000!

5. Nge-Laundry

Ini jadi andalan bnget nih kalo ga ad duit banyak, penghematan yang luar biasa. Asumsi cucian 3 kg)

Rinso (1,000) + Air (Free) + Molto (1,000) +Biaya Malas Nyuci = Laundry 3 kg (12,000)

Jadi biaya malas kita adalah 10,000!

6. Biaya Nge-Net ke Kampus

Ngenet di Kampus (Free) + Biaya Malas Jalan = Biaya ke Warnet (3,000/Jam)

Biaya Malas saya adalah 3,000!

Kesimpulan :
Terkadang istilah Biaya Peluang terlalu luas dan kompleks didefinisikan, padahal sehari-hari kita mengalaminya. Implikasinya bagi para mahasiswa ekonomi, dapat dipergunakan dalam analisis pengambilan keputusan. Analisis biaya peluang dapat digunakan untuk menghembat budget, mengatasi penyelesan di kemudia hari, dan bermacam-macam biaya yang mubazir,haha..:D

Economic and Morality

Paul Krugman had broadly explained how economist may seen "equalities of opportunity", and how is not included in economic discussions, yet relevant for building blocs contra-argument for the basis of vile injustice against morality in economics.